spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Antibodi Monoclonal Pada Manusia PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh fay   
Tuesday, 01 May 2007

ImageAntibodi Monoclonal Pada Manusia ternyata Memberikan Harapan bagi Penderita Penyakit Kulit Kronis

jdokter/--Plak penyakit kulit kronis dari yang sedang sampai berat berkurang yang ditandai adanya tingkat persentasi yang tinggi pada pasien yang menggunakan antibodi monoclonal interleukin-12/23 setelah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh dalam percobaan tahap II; demikian laporan para peneliti.

Tindakan yang harus dilakukan

·        Jelaskan kepada pasien yang bersangkutan bahwa penemuan yang dicatat disini berasal dari sebuah studi tahap II mengenai agen yang belum disetujui yang untuk jangka panjang banyak diperlukan pembuktian untuk studi jangka yang lebih panjang  guna menentukan terjadinya penyimpangan atau hal-hal yang buruk yang dapat membatasi menfaat klinis agen ini.

Dalam 12 percobaan multicenter selama 12-minggu, antibody monoclonal IL-12/23 mencapai perbaikan 75%  pada sekitar 52% sampai 81% pasien, tergantung pada dosis yang digunakan, dibandingkan dengan 2% pasien yang menggunakan placebo, demikian menurut hasil yang dilaporkan pada tanggal 8 Februari dalam terbitan New England Journal of Medicine, tingkatan respon menurun setelah perawatan dihentikan.

Lymphocyte yang bisa meresap masuk ke dalam kulit yang mengandung cytokine jenis 1 terkait dengan pathophysiologi penyakit kulit kornis, dan cytokine yang menghasilkan respon imunitas (IL-12 dan IL-23) bisa merepresentasikan target yang tepat, kata Gerald Krueger, M.D., dari University of Utah, dan rekan dalam Kelompok Studi Kulit Kronis CNTO 1275.

IL-12 p40 tandanya banyak terlihat pada plak penyakit kulit kronis seperti inteluki 23, yang juga dibagi menjadi subunit p40. Keduanya secara patologi penting, tulis tim Dr. Krueger.

Untuk mengevaluasi efek terapi penyumbatan IL-12 dan -23, antibody monoclonal IL-12/23 pada manusia (CNTO 1275) mulai dikembangkan. Studi ini mengevaluasi keamanan dan manfaat jangka pendek antobodi monoclonal IL-12/23 yang diberikan melalui kulit pada pasien yang menderita penyakit kulit sedang hingga berat.

Dalam suatu percobaan acak, percobaan yang dikontrol menggunakan placebo, dilakukan di 46 tempat di seluruh dunia, 320 pasien yang menderita penyakit kulit kronis sedang hingga berat dilakukan pengobatan secara acak dengan antibody monoclonal IL-12/23 melalui kulit (satu pasien dengan dosis 45-mg, satu orang lagi dengan dosis 90-mg, selama empat minggu dengan dosis 45-mg, empat minggu lagi dengan dosis 90-mg) atau placebo. 46 pasien diberikan secara acak untuk masing-masing kelompok.

Pasien yang diberikan antibody monoclonal IL-12-23 diberikan satu dosis tambahan dengan dosis yang telah diberikan pada minggu 16 bila diperlukan. Pasien yang diberikan placebo diselang dengan antibody monoclonal interkuli-12/23 dengan dosis 90-mg pada minggu 20.

Sebagian besar pasien (222) adalah laki-laki dan diantara lima kelompok, rata-rata yang terkena pada bagian muka sekitar 25% dan rata-rata lamanya menderita penyakit kulit kronis berkisar dari 17 sampai 20 tahun. Pasien berumur 18 tahun atau lebih, dan sebagian berumur 40-an.

Terdapat minimal 75% perbaikan dalam indek manfaat dan pada bagian kulit yang kronis pada minggu 12 (hasil akhir) 52% pasien yang menerima 45 mg antibody monoclonal IL-12/23, 59% dari mereka telah menerima 90 mg, dan 67% diberikan empat kali dosis 45 mg dalam seminggu, dan 81% pasien yang menerima empat kali dosis dalam seminggu sebesar 90 mg, dibandingkan 2% pasien yang diberikan placebo (P<0.001 untuk setiap perbandingan).

Selanjutnya, para peneliti melaporkan minimal terdapat 90% perbaikan masing-masing 23%, 30%, 44% dan 52%, untuk pasien yang menerima antibody monoclonal bila dibandingkan dengan 2% pasien yang diberikan placebo (P<0.001 untuk setiap perbandingan).

Peristiwa yang terburuk terjadi pada 79% pasien yang dirawat dengan antobodi monoclonal bila dibandingkan dengan 72% pasien dalam kelompk placebo (P=0.19). Peristiwa yang cukup serius terjadi pada 4% pasien yang menerima antbodi monoclonal dan dalam 1% pasien yang menerima placebo (P=0.69).

Untuk keselamatan, dalam minggu 20, 79% pasien yang diberikan pengobatan aktif mengalami peristiwa yang buruk dibandingkan dengan 72% yang diberikan placebo (P=0.19). Meskipun perbedaan itu secara statistic tidak mencolok, kata para peneliti, percobaan belum bisa untuk mendeteksi perbedaan pada kejadian penyakit yang sangat serius.

Peristiwa serius yang jarang umum terjadi dalam 4% dari kelompok antibody monoclonal dan 1% pasien pengguna placebo. Kejadian yang serius ini termasuk infeksi yang memerlukan perawatan rumah sakit, dua penyimpangan myocardial dan strok pada pasien berisko tinggi, dan penyimpangan glokusa. Hubungan diantara antibody monoclonal dan peyimpangan abnormal, kemungkinan terjadinya kanker, dan kejadian serius lainnya yang memerlukan studi lebih lanjut, kata para peneliti.

Penemuan ini mendukung studi sebelumnya yang menunjukkan adanya kekebalan terhadap penyakit kulit kronis. Perbandingan yang tinggi pada pasien yang menggunakan antobodi monoclonal IL-12/23 dan tingkat respon yang tinggi melibatkan sub-unit p40, yang dibagi menjadi dua cytokine, sebagai mediator kunci penyakit kulit kronis, kata para peneliti.

Hasil ini menunjukan bahwa cytokine IL-12/23 menjadi sasaran terapi baru yang cukup penting  bagi pasien yang menderita penyakit kulit kronis, kata tim peneliti. “Meskipun mengakui adanya keterbatasan perbandingan dalam studi tersebut,” tulis mereka, “Besarnya manfaat yang cukup tinggi yang diberoleh dari studi ini sebanding dengan manfaat yang dilaporkan untuk penanganan terapi biologi yang dilakukan lewat kulit atau melalui jaringan otot pada pasien penderita kulit kronis.”

Antibodi monoclonal yang memberikan efek pharmacodynamic yang dilakukan terus-menerus selama berminggu-minggu dan memberikan manfaat jangka panjang dan cukup mencolok setelah menggunakan satu atau empat dosis dalam seminggu, kata para peneliti.

Meskipun demikian, percobaan ini tidak dirancang untuk mengevaluasi manfaat dan keamanan penggunaan janka panjang, tambah Dr. Krueger. Studi yang lebih besar, katanya diperlukan untuk menentukan apakah kejadian yang serius dapat membatasi manfaat klinis target terapi baru ini dan untuk menjelaskan jadwal pemberian dosis sehingga akan menjaga tingkat respon yang tinggi.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
 
simple boy
download joomla cms download joomla themes