spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Botulinum Toxin Meredakan BPH Dalam Jangka Panjang PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh fay   
Tuesday, 29 May 2007

ImageBotulinum Toxin Meredakan BPH Dalam Jangka Panjang

jdokter/ – Injeksi botulinum toxin yang langsung kedalam prostate dapat mengurangi gejala refractory benign prostate hypertrophy (pembesaran prostate tidak ganas yang sulit disembuhkan) sampai satu tahun demikian menurut sebuah studi kecil.

Tindakan yang harus dilakukan

·          Jelaskan kepada pasien yang berkepentingan bahwa studi kecil permulaan ini menemukan bahwa injeksi botulinum toxin yang langsung ke prostate dapat membantu memperbaiki gejala BPH sehingga tidak berdampak pada perawatan medis.

 

·          Jelaskan kepada pasien yang berkepentingan bahwa studi ini menemukan bahwa injeksi intraprostatic botulinum toxin kelihatannya aman.

 

·        Hasil ini dilaporkan dalam pertemuan medis dan dalam kesimpulan yang telah diterbitkan seharusnya dijadikan sebagai pertimbangan awal sampai hasil itu dipublikasikan dalam jurnal yang diulas secara bersamaan.

 

Tiga perempat pasien 30% mengalami perbaikan dalam gejala urin dan kualitas hidupnya, demikian ditemukan oleh Yao-Chi Chung, M.D., dari Universitas Chang Gung di Taiwan.

 

Dalam beberapa kasus perbaikan bisa bertahan hingga satu tahun, katanya dalam pertemuan the American Urological Association. Tidak dilaporkan adanya efek samping yang besar.

 

“Hasil-hasil itu mendukung karena hasil tersebut juga menunjukkan bahwa Botox bisa dijadikan sebagai perawatan yang sederhana, aman dan efektif untuk prostate yang membesar sehingga memliki manfaat jangka panjang” komentar Michael Chancellor, M.D., ahli urologi dari Universitas Pittsburgh, peneliti dalam studi.

Dr. Chung melaporkan hasil studi yang melibatkan 37 pasien dengan riwayat BPH yang tidak bereaksi secara cukup terhadap terapi medis. Pada laki-laki memiliki sistem urin sedang sampai parah, yang direfleksikan dengan skor delapan atau lebih tinggi  menurut the International Prostate Symptom Scale (IPSS).  Para pasien mengalami aliran urin puncak kurang dari 12 ml/detik dan seluruhnya memiliki gejala yang sukar disembuhkan.

 

Perawatan yang dilakukan dengan suntikan botulinum toxin A dalam larutan garam. Dosis ditentukan menurut nilai prostat pasien. Pasien yang volume prostatnya 30 ml atau kurang (n=20) diberikan 100 U yang dibagi dalam dosis untuk kedua cuping prostate. Laki-laki yang volume prostatnya melebihi 30 ml (n=17) diberikan 200 U botulinum toxin yang dibagi menjadi dua suntikan di setiap cupingnya.

 

Ukuran hasilnya berubah-ubah menurut skor IPSS, kualitas indek kehidupan (0-6), aliran urin puncak (Qmax), volume residu urin pasca-buang air, dan volume prostate. Pengecekan dilakukan satu, tiga dan enam bulan setelah perawatan.

 

Dr. Chuang mengatakan 27 dari 37 laki-laki dalam studi ini minimal 30%nya mengalami perbaikan pada kedua IPSS dan kualitas indek kehidupan. Pada enam dan dua belas bulan, volume prostate rata-rata menurun sekitar 15% untuk dosis yang diberikan pada kedua kelompok tersebut.

 

Meskipun demikian, enam pasien dalam kelompok yang diberikan 100-U dan lima dalam kelompok yang diberikan 200-U tidak mengalami perubahan menurut volume prostat, perkiraan mekanisme pengambilan tindakan botulinum toxin A dalam prostate. Meskipun demikian, enam dari 11 pasien minimal 30% mengalami perbaikan gejala dan kualitas skor kehidupan.

 

“Persentasi perubahan volume prostate tidak ada hubungan dengan perubahan persentasi dalam Qmax gejala sistem urin rendah atau kualitas kehidupan.” Kata Dr. Chung.

 

“Mekanisme pengurangan gejala sistem urin rendah melalui injeksi botulinum toxin A dapat melibatkan tidak hanya penyusutan volume. Efek penghambat dalam kesehatan otot lembut, proses timbulnya radang dan fungsi sensor yang menyimpang dari kebiasaan dapat merencanakan suatu peran penting. Studi yang menggunakan Kontrol placebo dengan histology (ilmu jaringan tubuh) dan evaluasi biologi molekul diperlukan untuk memperbaiki mekanisme dan memastikan efek botulinum toxin A dalam BPH.”

 

Studi lain yang dilakukan oleh warga Taiwan mengevaluasi botulinum toxin A sebagai tambahan terapi untuk laki-laki yang memiliki protat besar dan riwayat reaksi terhadap kombinasi terapi medis untuk BPH. Volume prostate melebihi 50 mL dalam setiap kasus dan para pasien dilakukan terapi medis maksimal yang terdiri dari kombinasi alpha-blocker dan 5-alpha reductase inhibitor.

 

Tiga puluh pasien diberikan botulinum toxin A dengan dosis rata-rata 200 dan 600 U, tergantung pada volume prostate. Hasil klinis mereka dibandingkan dengan hasil dari 30 pasien BPH lainnya yang masih melakukan kombinasi terapi medis menuerut Hann-Chong Kuo, M.D dari Buddhist Tzu Chi General Hospital in Hualin, Taiwan Dr. Kuo tidak memberikan diskusi mengenai presentasi pengasuhannya.

 

Diantara pasien yang dirawat dengan botulinum toxin A, yang volume prostate dibawah rata-rata 23.5%, yaitu Qmax dengan 2.9 mL/detik dan tingkat PSA dengan 35.4%. Tiga pasien diduga memiliki hasil yang cukup mencolok dan 22 mengalami perbaikan gejala.

 

Lima pasien lainnya tidak berubah. Setelah dibandingkan dengan pasien yang dilanjutkan dengan terapi medis, kelompok tambahan mengalami perbaikan yang cukup mencolok dalam IPSS, kualitas hidup, volume prostate, indek daerah perubahan. Qmas dan tingkat PSA. Dr. Kuo melaporkan bahwa 83% dari botulinum toxin A kelompok menyatakan puas atas perawatan mereka dibandingkan dengan 17% pasien yang hanya diberikan kombinasi terapi medis.

 

Hasil dari dua studi itu tidak memenuhi dukungan secara universal. Roger Dmochowski, M.D., ahli urologi dari Universitas Vanderbit menggemakan sentimen dari Dr. Chancellor, khsuusnya mengenai lamanya pengurangan gejala. Disisi lain, Claus Roehrborn, M.D dari Universitas Texas Southestern Medical Center di  Dallas, menyatakan keberatan mengenai tidak adannya pasien dengan gejala yang memburuk setalah dilakukan injeksi botulinum toxin.

 

“Apakah anda yakin bahwa anda tidak memiliki pasien satupun yang mengalami penurunan skor gejala atau besarnya aliran atau kualitas skor kehidupan? Tidak ada pasien satupun?” Tanya Dr. Roehrborn kepada Dr. Chuang.

 

Dr. Chuang memastikan bahwa tak satupun dari pasiennya mengalami kerusakan gejala setelah melakukan terapi injeksi.

 

Dalam studi ditemukan dosis yang diberikan kepda 10 pasien terbukti bahwa botulinum toxin A memiliki peranan dalam perawatan benign prostate hypertrophy dan gejala sistem urin rendah. Pasien yang mengalami gejala sistem urin sedang sampai berat diberikan dosis 100 sampai 200 U dengan cara disuntik secara transrectal ke dalam prostate dan dilakukan selama enam bulan.

 

Dari sembilan pasien yang telah mengikuti, enam pasien mengalami perbaikan dalam AUA Sympton Scale dan besarnya aliran puncak; meskipun demikian empat dari enam pasien mengalami pengurangan gejala selama enam bulan, demikian yang dilaporkan Al Barqawi, M.D., dari Universitas Colorado di Denver.

 

Lima pasien mengalami pengurangan yang cukup mencolok dalam volume prostate. Tidak ada pasien yang mengalami dose-limitaing toxicity, tetapi dua pasien mengalami episode hematospermia yang membuktikan batasan sendiri. Dr. Barqawi mencatat bahwa percobaan tahap II yang dilakukan secara acak sedang dalam proses untuk menentukan efisiensi klinis botulinum toxin A dalam kelompk pasien yang besar dengan benign prostate hypertrophy dan gejala sistem urin rendah di Amerika Serikat.

 


2. Testoteron dan PSA Terkait dengan Terjadinya Resiko Kanker Prostat

(UROLOGY)

 

ANAHEIM, Calif, 25 Mei – Tingkat testoteron nampak memiliki pengaruh besar pada nilai PSA dan dapat menjamin kemungkinan pasien memiliki resiko tinggi terjadinya kanker prostate, demikian saran program screening besar.

 

Hal-hal yang harus dilakukan.

·        Data dari national prostate cancer screening program menunjukkan adanya hubungan yang kuat diantara testoteron dengan nilai PSA.

 

·          Pengukuran tingkat testoteron dapat memperbaiki intepretasi nilai PSA dan screening kanker prostate pada sebagian pasien.

 

·          Penemuan itu memerlukan konfirmasi dari calon studi termasuk biopsi prostate.

 

Nilai PSA yang lebih tinggi memiliki hubungan yang mendekati linier dengan tingkat ketinggian testoteron, demikian kata Al Barqawi, M.D., dari Universitas Colorado di Denver dalam pertemuan the American Urological Association.

 

Hubungan yang kuat di antara dua ukuran itu menyatakan bahwa testoteron memiliki dampak pengurangan PSA yang merekomendasikan biopsi prostate, tambahnya.

 

“Nilai PSA itu sendiri tidak sempurna,” kata Dr. Barqawi. “Hubungan diantara PSA dengan testoteron merupakan indikasi adanya tingkat testoteron yang secara actual memperbaiki perlindungan kami terhadap kanker prostat. Hal ini dapat memperbaiki rata-rata dan intepretasi nilai PSA.”

 

Namun demikian hasil dari studi ini tidak berarti bahwa testoteron harus diukur sepanjang PSA ketika melakukan screening kanker prostate, tambahnya. Masalah ini perlu dipecahkan dalam studi evaluasi termasuk biopsy prostate.

 

Dampak terhadap tingkat testoteron dalam penyusunan screening PSA masih controversial menurut kondisi terbaiknya, catat Dr. Barqawi.

 

Stimulan angrogen pada prostate kemungkinan memainkan peranan dalam pengembangan benign prostate hypertrophy and kanker prostate. Nilai PSA terkait langsung dengan ukuran prostate dan pertumbuhan baik dalam keadaan lunak dan yang membahayakan.

 

Dengan demikian para peneliti melakukan evaluasi data dari program screening prostate nasional dalam upaya untuk mengklarifikasi hubungan diantara dua biomarkers.

 

Dr. Barqawi dan rekannnya mengulas nilai PSA dan testoteron yang diperoleh dari 8.794 laki-laki dan yang ikut serta dalam program tahun 2004 dan 2005. Dengan menggunakan analisis regresi linier, testoteron sebagai suatu kelanjutan nilai dianalisa terkait dengan PSA, umur dan umur menurut interaksi PSA. Nilai testoteron distratifikasi menjadi empat tingkatan ordinal (£150 ng/ml. N=238; 150 sampai 230 ng/ml, N=896; 230 sampai 346 ng/ml; dan >346 ng/ml, N=5.159). Regresi logistic digunakan untuk tingkatan model testoteron menurut nilai dan umur PSA.

 

Umur rata-rata populasi studi 60.9 dan tingkatan testoteronnya rata-rata 412.5 ng/mL. Regresi logistic dan linier mengungkapkan adanya hubungan yang cukup positif diantara nilai PSA dengan testoteron (P<0.001). Korelasinya masih cukup signifikan setelah menyesuaikan umur (P<0.001). Pada laki-laki dengan quartile testoteron terendah memiliki rata-rata nilai PSA dari 1.35 ng/ml yang meningkat menjadi 1.79 ng/ml untuk laki-laki dengan quartile testoteron tertinggi.

 

Penemuan itu secara tegas menyatakan adanya implikasi dari pengujian PSA dan screening kanker prostate.

 

“Nilai pengurangan PSA yang berubah-ubah untuk rekomendasi biopsi prostate adalah 4 ng/ml.” dan Dr. Barqawi. “Apabila pasien memiliki PSA dari 3.9 ng/ml, misalnya, dokter dan pasien merasa lebih aman dari yang sesungguhnya. Kami mengetahui dari  Uji Pencegahan Kanker Prostat dimana nilai PSA dari 1-2 ng/ml terkait dengan 29% resiko diagnosis prostate yang terkait dengan kanker. Hubungan diantara PSA dengn testoteron merupakan indikasi bahwa testoteron dapat membantu memperbaiki penafsiran nilai PSA dan dalam proses peningkatan perlindungan terhadap kanker prostate.”

 

E.David Crawford, M.D ahli urologi dari Universitas Colorado yang merupakan peneliti senior dalam studi, mengatakan bahwa testoteron dapat dengan mudah memasukkan standar uji laboratorium. Termasuk testoteron dalam sebuah panel yang membantu mengurangi biaya pengujian, meskipun dia menekankan bahwa peran testoteron dalam screening kanker prostate masih belum jelas.

 

Para peneliti Jepang memperbesar debat mengenai data yang menunjukkan bahwa ukuran testoteron dapat membantu membedakan kanker prostate dari BPH pada sebagian pasien.

 

Hiroyoshi Suzuki, M.D., dari Chiba University melaporkan data pengujian screen pada 420 orang laki-laki menunjukkan bahwa tingkatan testoteron tidak berbeda diantara orang laki-laki dengan kanker prostate yang terbukti mengandung biopsy dan tingkatan dengan BPH. Akan tetapi, sebagian pasien dengan PSA <10 ng/ml atau kepadatan PSA <0.15 ng/mLi/cc, tingkatan testoteron sebelum perawatan cukup tinggi pada laki-laki yang menderita kanker prostate dibandingkan dengan penyakit prostate lunak/tidk ganas (P=0.0198 untuk PSA. P=0.0362 untuk kepadatan PSA).

 

Dalam analisis multi varian, serum testoteron merupakan predictor independent dari biopsy positif pada laki-laki yang memiliki nilai PSA dasar <10 ng/ml. Dr. Suzuki dan rekan menyarankan bahwa screening kanker prostate dapat diperbaiki dengan menambahkan pengukuran testoteron untuk menafsirkan PSA.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
 
simple boy
download joomla cms download joomla themes