spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Parkinson PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh fay   
Tuesday, 17 July 2007

ImageDimana ada asap rokok, disana terdapat sedikit penyakit Parkinson

jdokter – Asap rokok dan penggunaan tembako lainnya kelihatannya melindungi terhadap penyakit Parkinson, demikian menurut kumpulan analisis.

Tindakan yang harus dilakukan:

·        Jelaskan kepada pasien yang bersangkutan bahwa efek asap rokok sangat merugikan, termasuk penyakit jantung dan kanker paru-paru, lebih jauh lagi resikonya akan berkembang menjadi penyakit Parkinson.

Data mengenai Parkinson sangat berbeda sekali dengan efek tembako pada tubuh, demikian dilaporkan Beate Ritz, M.D., Ph.D., dari University of California di Los Angeles School of Public Health, dan rekan penulis.

Data yang dikumpulkan dalam studi kelompok besar menyatakan bahwa para perokok saat ini mengalami resiko penyakit Parkinson 77% lebih rendah dibandingkan dengan yang bukan perokok, tulis para peneliti pada bulan Juli dalam terbitan Archieves of Neurology.

Efek protektif asap meningkat selama masih merokok dan menurun sejak berhenti merokok.

 “Data kami mendukung pengurangan resiko penyakit Parkinson yang terkait dengan asap rokok dan kemungkinan penggunaan tembako jenis lainnya, tulis mereka. “yang terpenting, efek ternyata tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin atau pendidikan.”

Semakin rendah resiko terjadinya penyakit Parkinson pada pengguna tembako terkait dengan hilangnya nikotin, kata para penulis, meskipun demikian mereka mencatat bahwa studi mengenai nikotin itu sendiri pada penyakit Parkinson telah dikombinasikan.

Bukti dari kedua pengamatan kasus dengan kelompok studi menunjukkan adanya efek asap yang protektif terhadap penyakit Parkinson, tulis para penulis.

“Studi saat ini juga menyatakan bahwa resiko penyakit Parkinson rendah terutama pada perokok aktif dengan riwayat merokok yang cukup lama; sebagian menyatakan pengurangan resiko terkait dengan peningkatan dosis selama masih merokok,” tulis mereka. “Ini mendorong timbulnya spesikulasi mengenai apakah dan bagaimana pengamatan ini dapat memberikan informasi mengenai perawatan penyakit Parkinson dan pencegahannya.”

Untuk melihat apakah factor demografi atau jenis penggunaan tembako kemungkinan merubah dugaan efek protektif, para penulis mengambil data dari delapan studi pengamatan kasus di Amerika dan tiga kelompk studi besar – the Nurses’ Health Study, Health Professionals Follow-Up Study, and Honolulu-Asia Aging Study. Studi itu dilakukan sejak 1960 sampai 2004.

Studi pengamatan kasus berisi data yang berjumlah 2.328 pasien yang menderita Parkinson dan 4.113 pengamatan yang dicocokkan menurut umur, jender dan latar belakang rasial/etnik. Terdapat 488 pasien yang menderita penyakit Parkinson dalam beberapa kelompok studi, yang dibandingkan dengan 4.880 pengamatan yang dipilih dari umur dan jender yang dicocokan dengan resiko yang terjadi. Hasil utama ukuran itu berupa terjadinya penyakit Parkinson.

 “Estimasi resiko yang kami peroleh untuk saat ini dan sebelumnya terhadap mereka yang tidak merokok menyatakan adanya pengurangan resiko dengan ukuran yang sama untuk penyakit Parkinson diantara laki dan perempuan tetapi pengurangan yang cukup mencolok terjadi pada perokok saat ini dibandingkan dengan perokok sebelumnya dan dalam kelompok studi dibandingkan dengan kelompok pengamatan kasus,” tulis para peneliti.

Dalam studi pengamatan kasus, rasio penyimpangan penyakit Parkinson diantara perokok saat ini dengan yang tidak pernah merokok (kombinasi laki-laki dan perempuan) adalah 0.53 (jarak konfiden 95%, 0.44-0.63), dan untuk perokok sebelumnya adalah 0.76 (CI 95%, 0.68-0.86).

Dalam kelompok study, resio penyimpangan perokok saat ini dengan yang tidak merokok adalah 0.23 (95% CI, 0.15-0.36), dan untuk perokok sebelumnya adalah 0.64 (95% CI, 0.52-0.77).

Ketika mereka melihat hubungan lamanya merokok dengan penyakit Parkinson, mereka menemukan bahwa resikonya menurun sejak waktu merokok meningkat. Diantara perempuan, sembilan atau kurang dari itu selama masih rokok dikaitkan dengan penyesuaian rasio penyimpangan sebesar 0.93 (0.88-1.00), sedangkan 60 tahun waktu merokok atau lebih dikaitkan dengan rasio penyimpangan sebesar 0.52 (95% CI, 0.31-0.89). Peningkatan resiko sejenis terlihat pada laki-laki.

Pengurangan dalam resiko relative rata-rata 5%-8% untuk setiap 10 tahun masa merokoknya. Sebaliknya, resiko meningkat lagi lebih lama pada perokok sebelumnya yang tidak merokok lagi.

 “Bagi para perokok, kami juga melihat adanya kecenderungan berbalik untuk jumlah rokok dan lamanya merokok secara terpisah, “ tulis para peneliti. “Untuk kedua jenis kelamin, kecenderungan respon dosis berbanding terbalik tinggi dilakukan pengamatan selama beberapa tahun sejak berhenti merokok sampai dilakukan diagnosis penyakit Parkinson. Ini tidak berubah ketika kami meniadakan non-perokok dari kelompok perbandingan sehingga kelompok referensi hanya terdiri dari perokok sebelumnya yang telah berhenti 25 tahun silam atau lebih.”

Para penulis menemukan bahwa hubungan berbalik diantara perokok dengan resiko terjadinya penyakit Parkinson tidak dipengaruhi oleh pendidikan, tetapi ras dan etnik nampak memainkan peranan dengan perokok berat kebanyakan berkulit putih dan Asia-Amerika, bukan Afrika-Amerika atau Hispanic, yang memiliki resiko penyimpangan rendah.

Juga terdapat bukti yang menyatakan bahwa pada laki atau asap rokok, atau keduanya, dan penggunaan tembako curah diantara perempuan tidak ada, catat para penulis.

Meskipun para peneliti menemukan adanya hubungan respon dosis diantara tahun merokok dengan penyakit Parkinson, hubungan berbanding terbalik tidak terlihat pada mereka yang lehih tua dibandingkan yang dilakukan diagnosis, tanpa melihat apakah mereka membatasi analisa ini kepada perokok atau termasuk non perokok.

Terakhir diperbaharui ( Tuesday, 17 July 2007 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
 
simple boy
download joomla cms download joomla themes