spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Kombinasi Pemberian Obat Penenang (Sedation) dan Penghentian Ventilator Ternyata Efektif PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh fay   
Monday, 21 January 2008

ImageKombinasi Pemberian Obat Penenang (Sedation) dan Penghentian Ventilator Ternyata Efektif

jdokter// – Penghentian ventilator dengan protocol disertai dengan penghentian pemberian obat penenang menunjukkan hasil yang lebih baik untuk pasien yang dirawat secara intensif dibandingkan yang menggunakan metode standar, demikian yang dilaporkan para peneliti. Pada satu tahun, pasien yang setiap hari dirawat dengan membangunkan secara spontas dengan memberikan obat penenang yang diberikan dengan memberikan latihan pernapasan secara spontan mengurangi sepertiga kematian dibandingkan pada pasien yang menggunakan control, demikian yang dilaporkan Timothy D.Girard, M.D., dari Vanderbit dan rekan pada tanggal 12 Januari dalam terbitan the Lancet.

Secara keseluruhan, ventilasi mekanis sering dibarengi dengan pemberian obat penenang dengan dosis tinggi dan disertai dengan intervensi yang terkait dengan morbidity (penyakit mental) yang cukup mencolok, kata Dr. Girard.

Studi sebelumnya menunjukkan bahwa upaya untuk mengurangi lamanya ventilasi mekanis yang dikombinasikan dengan penghentian dan protocol pemberian obat penenang dapat memperbaiki hasil secara klinis.

Namun para peneliti mengatakan kurangnya bukti yang mendukung penggunaan percobaan dengan membangunkan secara spontas secara rutin karena para ahli klinik/dokter belum setuju mengenai resiko dan manfaatnya. Sebagian besar protocol pemberian obat penenang dan penghentian ventilator dilihat secara terpisah dan sering kali ditangani oleh anggota tim perawatan pasien yang berbeda.

Untuk menguji yang disebut dengan “protocol bangun dan bernapas,” para peneliti melakukan percobaan/latihan Bangun dan Bernapas dengan Kontrol, yang dilakukan secara acak pada 336 pasien yang diberikan ventilasi secara mekanis di empat rumah sakit perawatan tersier di Amerika Serikat.

Pasien direkrut sejak 2003 sampai 2006. Dari pasien itu, 168 dilakukan secara acak untuk kelompok intervensi dengan interupsi sedation yang diikuti dengan latihan bernapas secara spontan.

Kelompok control yang terdiri dari 168 pasien diberikan obat penenang yang sasarannya pasien yang dirawat ditambah latihan bernapas secara spontan sebagai bagian dari penghentian ventilasi.

Diantara keterbatasan studi itu, para peneliti mencatat bahwa staff peneliti dan staff ICU harus memperhatikan alokasi pasien karena pemberian secara serampangan tidak dimungkinkan dalam studi tersebut. Juga, penjelasan secara rinci mengenai praktek pemberian obat penenang yang digunakan untuk menangani pasien control tidak tersedia karena para dokter diperbolehkan menggunakan pertimbangan mereka sendiri. Meskipun demikian, dosis obat penenang itu tetap dicatat.

Terakhir, pasien bedah tidak diikutsertakan karena kebutuhan mereka akan analgesic berlangsung terus. Dengan demikian, Protokol itu seharusnya diuji secara terpisah dalam perawatan bedah intensif, kata para peneliti.

Kesimpulannya, Dr. Girard dan rekan menulis hasil ini dengan menyebutkan bahwa protocol ini menghasilkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pendekatan standard dan harus dipraktekan secara rutin.

Meskipun demikian, dalam komentar tambahannya, Laurent Brochard, M.D., dari Centre Hospitalier Albert Chenevier-Mondor in Creteil, Perancis memberikan perhatian mengenai pendekatan yang diadopsi oleh Dr. Girard dan menanyakan kesulitan penggunaan metode ini diluar kontek percobaan.

Meskipun pemberian obat penenang lebih dimungkinkan dalam unit perawatan intensif saat ini dan akumulasi obat penenang tetap dalam tubuh jauh diluar lamanya perawatan, pemberian obat penenang, katanya, merupakan bagian perawatan terkritis. Sebelum mengadopsi pendekatan yang dilakukan oleh Dr. Girard, diperlukan pendekatan studi secara kritis dan  perawatan diberikan dalam kelompok control.

Dia memberikan perhatian bahwa insentif untuk melakukan pemberian obat penenang yang masih sedikit yang dilakukan dengan control dapat menimbulkan bias. Dia juga memberikan perhatian mengenai sumber yang diperlukan untuk pendekatan ini.

 “Jumlah waktu yang dibutuhkan untuk melakukan riset personel untuk menggunakan pendekatan bangun dan bernapas belum diketahui dan kemungkinan membatasi kesempatan untuk melakukan penyelamatan dalam perawatan rutin,” tulisnya.

 “Staff yang ada (dokter, suster, ahli terapi dll) kemungkinan menjadi factor yang sangat penting untuk penghentian ventilator secara efisien dibandingkan dengan melakukan protocol per se,” tulisnya. “Agar bisa dijalankan, pendekatan penghentian ventilator harus sederhana, dapat dilakukan dengan mudah dan aman.”

Selain itu, katanya, “Saya memberikan perhatian bahwa penggunaan teknik secara terpisah bisa menimbulkan akibat buruk dalam kasus-kasus dimana pemberian obat penenang bisa sangat membantu pasien.”

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
 
simple boy
download joomla cms download joomla themes