spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Latest News
RISIKO SERANGAN OTAK(STROKE) SETELAH SERANGAN “STROKE KECIL” PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh fay   
Monday, 29 January 2007
Image Jdokter/- (HealthDay news) -  Para Ahli iImu Saraf mengatakan bahwa mereka telah mengembangkan pengujian cepat untuk menilai/menentukan bahwa seseorang yang menderita serangan transient ischemic (TIA)  atau disebut  “Stroke Mini”, akan mendapat serangan stroke besar dalam tempo 48 jam berikutnya.

Pengujian tersebut mnggabungkan unsure-unsur  dua macam penilaian dari perkiraan sebelumnya.   Pengujian-pengujian tersebut dirancang untuk menentukan risiko suatu stroke dalam tempo masing-masing tujuh puluh and sembilan puluh hari.
Kami mengambill tiap unsur dalam pengujian-pengujian tersebut,  menggabungkannya ke dalam seruruh serie/rangkaian , memilih yang paling baik,  dan memandangnya benar dalam pengujian-pengujian yang baru,”  kata Dr. S. Claiborn Johnston, associate professor dari ilmu isaraf di University of California, San Francisco, dan ketua penulis laporan dalam jurnal The Lancet.
Sekitar 240.000 TIAs  -  ketidaklancaran kecil dalam pembuluh otak – didiagnosis di Amerika Serikat tiap tahunnya,  dan sampai 20 persennya akan disusul oleh stroke besar/utama.  Adalah penting untuk menentukan bahaya yang tidak lama menyerang, karenas separoh dari serangan otak tersebut terjadi dalam dua hari pertama setelah suatu TIA (stroke kecil)  demikian menurut Johnston. Pengujian baru dapat dilakukan dalam beberapa menit, kata dia lagi.  Pengujian baru tersebut mengukur tingkat tekanan darah,  ketidaknormalan bicara, kelemahan pada sebelah tubuh, diabetes dan pengaruh atas tubuh dan pikiran.Dengan menggunakan pengujian baru kepada sebagian besar orang yang terkena TIA diketahui, 21 persennya berada dalam risiko tinggi.  Ini berarti mereka  mengalami satu di antara duabelas peluang untuk terkena strok dalam tempo 48 jam berikutnya. .  45 persen yang lainnya digolongkan sebagai berada  pada risiko yang sedang sedang saja dengan

4.1 persen peluang terkena stroke.

Ini merupakan penelitian sekala besar yang pertama untuk mengakui kebenaran-kebenaran di atas,”  kata Johnston.  ”Kami berada pada peringkat baru dimana kami merasa yakin bahwa penilaian-penilaian tersebut memang berguna dalam praktik  klinis di dunia Barat.”

Pengujian tersebut dapat mempermudah menentukan  pasien yang mana yang harus mengalami perawatan inap dan yang mana pula yang diperbolehkan pulang dengan aman, katanya lagi.”Kami  berharap bahwa para ahli ilmu saraf, dokter gawat-darurat dan para dokter pemberi pertolongan pertama akan mendengar penilaian ini dan mulai menggunakannya secara luas,”  Kata Johnston. ´”Sekarang ini, rupanya para dokter tidak membuat keputusan berdasakan risiko.  Mereka membuat orang-orang dirawat inap, apakah mereka bersiko tinggi maupun tidak.”Dr. Brett L. Cucchiara, asisten profesor  ahli sarat di University of Pennsylvania, mengatakan bahwa dia membuat setiap orang yang terkena TIA dirawat inap.  Alasannya menurut dia, adanya perasaan ragu yang besar mengenai nilai dari semua  pengujian dalam menentukan besar-kecilnya tingkat risiko.
Pendapatnya mengenai laporan baru adalah bahwa ”Sangatlah menarik dan laporan tersebut mengisyaratkan bahwa strategi ini mungkin banyak manfaatnya.”  Tetapi, Cucchiara menambahkan, ”kami benar-benar harus meneliti penemuan-penemuan semacam ini harus diulang lagi  oleh kelompok mereka yang tidak terikat sebelum penemuan-penemuan tersebut menjadi terlalu lambat untuk memberikan manfaat yang sebaik-baiknya.Dia merujuk kepada suatu penelitian baru dari orang-orang Portugis, yang hampir  dipublikasikan yang agaknya telah memandang kurang baik cara menentukan risiko stroke sebelumnya.”Dalam penelitian mereka, yang skalanya jauh lebih luas,  sama sekali tidak didapati adanya nilai perkiraan,”  kata Cucchiara. ”Saya tidak yakin pengujian-pengujian ini cukup dibuktikan untuk membolehkan para pasien pulang kerumah mereka dari  ruang rawat darurat.”
”Laporan lain yang dimuat dalam terbitan  jurnal yang sama,  ditemukan bahwa MRI lebih baik dari sken  CT yang biasa dipakai  untuk diteksi stroke yang akut.Penelitian atas 356 pasien, dilakukan  di US  Nastional Institute of Neurological Diseases and Stroke, menemukan bahwa MRI  menditeksi stroke dan pendarahan otak lebih sering dibandingkan CT,  dan bahwa MRI seharusnya menjadi pengujian yang lebih diutamakan walaupun memerlukan biaya tambahan.Informasi  TambahanCarilah lebih banyak mengenai informasi gejala dan bahaya-bahaya dari TIAs di  American

 

Terakhir diperbaharui ( Tuesday, 30 January 2007 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
 
simple boy
download joomla cms download joomla themes