spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Efavirenz (Sustiva) sebagai leader untuk Terapi HIV awal PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh fay   
Tuesday, 27 May 2008

ImagePercobaan Langsung Memastifkan Efavirenz (Sustiva) sebagai leader untuk Terapi HIV awal

jdokter// – untuk pengobatan awal infeksi HIV, salah satu regime yang paling umum digunakan adalah, ternyata, yang paling efektif, kata para peneliti.

Penemuan itu berasal dari percobaan langsung dari dua obat pokok, yang ketiga secara teori juga menarik namun tidak begitu banyak digunakan, demikian menurut Sharon Riddler M.D., dari Universitas Pittsburgh, dan rekan.

Pada akhir studi yang dilakukan secara acak selama 96 minggu, para pasien yang menggunakan kombinasi efavirenz (Sustiva) ditambah dua nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTIs) memerlukan waktu lebih lama sebelum virus mengambul lagi, demikian yang dilaporkan Dr. Ridder dan rekan pada tgl 15 Mei dalam terbitan the New England Journal of Medicine.

Cara ketiga-kombinasi efavirenz dan lopina/ritonavir—berada pada pertengahan dan perbedaannya tidak terlalu signifikan dibanding kedua lainnya, demikian yang disampaikan Dr. Riddler dan rekan.

Bahwa kombinasi memberikan sparing NRTI, kelihtannya sangat menarik karena menawarkan kemungkinan bisa menghindarkan racun terkait dengan NRTI, termasuk berkurangnya sebagian kecil lemak.

Ini mengharuskan para pasien hanya meminum dua obat saja, karena lopinavir/ritonavir dianggap sebagai obat tunggal dan mengandung hanya satu pil saja.

Studi itu melibatkan 757 pasien, yang tercatat sejak Januari 2003 sampai Mei 2004 dan diikuti rata-rata selama 112 minggu. Hasil akhir utamanya adalah kegagalan virology (yang dijelaskan sebagai kembalinya sejumlah HIV RNA dalam plasma) dan kegagalan regime (baik kegagalan virology maupun kurangnya racun untuk memastikan berhentinya regim sebelumnya).

Para peneliti menemukan 24% pasien dalam kelompok efavirenz mengalami kegagalan  virology, dibandingkan dengan 37% dalam kelompok lopinavir/ritonavir, dan 29% dalam kelompok sparing NRTI.

Terlepas dari kurang jelasnya jawaban mengenai efisiensi, studi itu memperoleh hasil sebagai berkut:

·        Banyak pasien dalam regimen sparing NRTI mengalami resistensi obat pada kegagalan virology –16% banding 9% untuk kelompok efavirenz dan 6% untuk kelompok lopinavir/ritonavir. Perbedaan antara kelompok sparing NRTI dengan dua lainnya cukup signifikan P<0.05.

·        Pada akhir studi, pasien dalam kelompok lopinavir/ritonavir mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari awalnya (P=0.01) dalam hitungan sel CD4 dibandingkan dengan sel pada dua regim lainnya.

·        Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal ketaatan pengobatan  atau pada waktu pengobatan pertama yang membatasi kejadian keras.

·        Di sisi lain, sebagian pasien yang mengalami kelainan pada tahap tiga atau empat cukup tiggi dalam kelompok sparing NRTI (P<0.01), terutama karena seringnya mengalami peninggian dalam level triglyceride yang cepat.

 “Ketiga regime itu memiliki daya tahan yang baik dan efektif,” kata Dr. Riddler, namun “hasil kami menunjukkan bahwa efavirenz dengan NRTI seharusnya masih dipertimbangkan sebagai regim standard baku untuk pengobatan HIV”.

Kelihatanya tidak “ada yang aneh” dengan ketiga obat itu, katanya, yang menambahkan “kedua regim obat itu bisa efektif.”

Para peneliti dari Swis mencatat bahwa studi itu sedikit berkurang dilihat dari tingkat kejadian-obat baru dan formula baru dari obat lama yang mungkin bisa menghasilkan perbaikan dalam hal efisiensi dan profil kejadian yang hebat.

Misalnya, kata mereka, dua obat itu tidak digunakan dalam studi yaitu tenofovir (Viread) dan emtricitabine (Emtriva) – sekarang merupakan kombinasi NRTI standar yang kemungkinan bisa menimbulkan keraguan terhadap penerapan penemuan di masa yang akan datang.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
 
simple boy
download joomla cms download joomla themes