spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Kegagalan Vaksin HIV PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh fay   
Wednesday, 26 November 2008

ImageKegagalan Vaksin HIV Meninggalkan Kunci Pembuka Pertanyaan

Jdokter// - Para peneliti mengatakan, Kegagalan dari pengujian vaksin HIV dalam setengah percobaan STEP meninggalkan sebuah pertanyaan penting tanpa jawaban. Vaksin ini ditujukan untuk mempengaruhi Sel T yang menengahi imunitas, dan dengan demikian pencegahan infeksi HIV atau dengan perkembangan penyakit yang melambat setelah infeksi, tetapi kegagalan ini perlu mempertemukan objektif mereka, hal ini menurut Susan Buchbinder, M.D., dari Francisco Department Kesehatan Masyarakat, dan para rekan kerjanya. 

Hal ini tetap belum jelas jika kegagalan itu adalah hasil dari kekurangan dalam spesifik vaksinnya, atau bisa jadi seluruh pendekatan adalah salah. Ini dikatakan oleh Dr. Buchbinder bersama rekan kerjanya secara online di Lancet.

Hal ini adalah mungkin, dia bersama rekan kerjanya mengatakan, bahwa “keseriusan, mutu, ketegasan, atau homing dari respon imunitas” terhadap vaksin yang tidak cukup untuk mengontrol replikasi virus.

Tetapi ini mungkin juga adalah karena “ketidakcukupan yang mewakili suatu tantangan yang lebih pundamental sel yang menengahi vaksin imunitas untuk mengubah pelatihan klinis mengenai penyakit ini”, ini dikatakan oleh mereka.

Dia mencatat bahwa ada bukti mengenai sel yang menengahi pendekatan yang dapat menghambat perkembangan virus, sekalipun itu tidak menghalangi infeksi, dan itu dapat menghasilkan untuk memiliki keuntungan yang signifikan.

Dia berkata, “kita mungkin masih mampu untuk mempunyai suatu dampak subtansial pada epidemic jika kita menekan (Orang-orang yang Positive HIV) ke dalam nonprogressors yang jangka panjang”.

Dia dalam studi yang lain, yang di pimpin oleh Juliana McElrath, MD., dari Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle, para peneliti menemukan bahwa vaksin adalah “immunogenic yang sangat tinggi karena mempengaruhi HIV-specific CD8+ sel-sel T”.

Vaksin itu, yang dikembangkan oleh Merck, yang dinyatakan HIV gag, pol, dan nef genes, yang dibawa oleh satu adenovirus tipe 5 vektor. studi STEP diharapkan sebagai suatu percobaan proof-of-concept, di mana vaksin itu diuji di suatu pertunjukan secara acak dari sukarelawan HIV-negative pada resiko yang tinggi dari HIV acquisition.

Pengacakan dilakukan secara kelompok dengan dasar yang berbeda tingkatan dari antibody terhadap vector adenovirus.

Pada akhirnya studi mengacak 3,000 orang, dengan sasaran pokok dengan mengurangi tingkat HIV acquisition (yang diuji setiap enam bulan) atau suatu penurunan awal plasma HIV RNA yang di ukur tiga bulan setelah hasil diagnosa HIV yang baru.

Tetapi dalam sebuah pre-specified sebelum analisa sementara yang ditetapkan bagi para sukarelawan yang berdasarkan tingkat antibody terhadap vektor adenovirus yang rendah, komite keamanan data menemukan 24 dari 741 penerima vaksin menderita HIV yang dibandingkan dengan 21 dari 762 penerima plasebo.

Resiko ratio sekitar 1.2 tidak signifikan tetapi ini ditemukan sebelum batasan yang sia-sia yang ditetapkan dan percobaan itu di hentikan. Nyaris salah satu dari infeksi bagi orang.

Komite juga menemukan bahwa tingkat geometric plasma HIV RNA yang dapat dibandingkan bagi vaksin laki-laki yang terkena infeksi dan para penerima placebo, sekitar 4.61 berbanding 4.41 log10 copies per milliliter.

Para peneliti menemukan, Resiko itu tidak ditingkatkan kepada mereka yang seronegative untuk adenovirus atau mereka yang bersunat.

Dr. McElrath, Dr. Buchbinder, dan para rekan kerja mereka menyelenggarakan suatu studi kontrol kasus untuk memperhatikan imunogenisitas vaksin.

Mereka melihat sel-sel darah mononuklir dalam 354 orang setelah mereka mendapat vaksin, termasuk 38 orang yang kemudiannya menjadi yang terkena infeksi HIV (kasus-kasus) ) dan 316 yang tidak.

Para peneliti menemukan, Analisa mendeteksi interferon-v-secreting HIV-specific sel-sel T dalam 77% dari 354 sukarelawan tetapi tidak ada perbedaan di dalam vaksin HIV-specific imunitas antara kasus-kasus dan kontrol.

Salah satu dari pengaruh utama dari kegagalan vaksin-vaksin merupakan sebuah penilaian evaluasi ulang dengan bagaimana penelitian vaksin harus diselenggarakan, dengan sejumlah para ilmuwan yang mendukung suatu perdagangan besar kembali ke ilmu pengetahuan dasar imunologi.

Tetapi dia berkata model-model binatang dan terutama percobaan-percobaan manusia akan juga diperlukan di dalam pengendalian ini untuk menemukan suatu vaksin.

Secara bertentangan -selama vaksin diri sendiri gagal jumlah yang tak terukur dari data percobaan yang dihasilkan, pertanyaan-pertanyaan yang sudah diangkat, dan pemusatan kembali riset vaksin dengan mengikuti yang sudah menyegarkan kembali bagiannya, ini dikatakan oleh Dr. Buchbinder.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
 
simple boy
download joomla cms download joomla themes