spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Kurang Tidur Berkaitan Dengan Depresi Pada Anak-Anak Remaja PDF Cetak E-mail
Monday, 25 January 2010

ImageKurang Tidur Berkaitan Dengan Depresi Pada Anak-Anak Remaja

Jdokter//- Selain depresi, anak remaja yang kurang tidur kemungkinan juga memiliki risiko yang lebih besar berpikiran untuk bunuh diri, James Gangwisch, PhD, dari Columbia University di New York City, dan rekan-rekannya melaporkan .

Studi ini "memberi dukungan atas gagasan bahwa pendeknya waktu tidur dapat menjadi faktor risiko depresi dengan awalnya hanya sebagai gejala depresi," kata Gangwisch dalam sebuah wawancara.

Jika seorang "dokter bertemu  dengan seorang remaja yang tidak menderita depresi, dimana mereka ingin menyelidiki apakah remaja ini cukup mendapatkan waktu tidur."

Gangwisch dan rekan-rekannya mengeksplorasi hubungan antara orangtua  yang menetapkan waktu tidur, lamanya tidur, serta yang depresi dengan menggunakan data dari National Longitudinal Study of Adolescent Health (Add Health), yang dilakukan di rumah si anak remaja dan wawancara dengan orangtua mereka.

Analisis ini menggunakan sampel representatif secara nasional dari 15.659 anak-anak dan remaja di kelas 7 hingga 12.

Dengan lamanya tidur rata-rata kurang dari delapan jam, dan yang kurang dari sembilan jam diperkirakan  biasa dilakukan oleh remaja, menurut para peneliti.

Pendeknya waktu  tidur berhubungan dengan rata-rata waktu tidur yang telah ditetapkan oleh orangtuanya. Dan sekolah mulai memberikan kontribusi terhadap fenomena ini dengan membatasi berapa lama peserta bisa tidur di pagi hari, menurut Gangwisch dan rekan-rekannya.

Lebih dari dua-pertiga sekitar (69,7%) dari mahasiswa yang melaporkan kepatuhan mereka atas peraturan orangtua mereka akan waktu tidur. Dua pertiga dari mereka yang tidak sesuai dengan keinginan orangtuanya mengatakan bahwa mereka pergi tidur lebih cepat satu jam dari waktu yang telah ditetapkan.

Remaja yang kurang tidur  kemungkinan membuat meningkatnya risiko depresi dan pemikiran untuk bunuh diri dibandingkan dengan mereka yang tidur lebih awal setelah mengendalikan beberapa faktor.

Namun, setelah penyesuaian waktu tidur tambahan sehingga waktu tidurnya cukup, maka tidak lagi berhubungan dengan risiko secara signifikan, karena para peneliti telah menghipotesiskan.

Mereka yang mengatakan bahwa mereka kurang tidur dimalam hari dan memiliki pikiran untuk bunuh diri kemungkinan menderita depresi.

"Kemudian orangtuanya menetapkan waktunya tidur sehingga lamanya tidur lebih pendek dan kemungkinan besar tidak cukup tidur, sehingga berhubungan dengan depresi dan bunuh diri," menurut para peneliti.

Kurang tidur bisa menyebabkan depresi melalui beberapa mekanisme, menurut para peneliti.

Yang pertama, kurang tidur dapat mengakibatkan modulasi yang tidak sesuai terhadap otak yang secara emosional menanggapi rangsangan, menurut para peneliti.

Kedua, akibat kurang tidur kemungkinan dapat mengganggu kemampuan  remaja  dalam  mengatasi stres  dan mengganggu hubungan interpersonal, yang akhirnya menimbulkan depresi.

Kurang tidur bisa juga merusak konsentrasi, dan mengendalikan dorongan hati, yang mengakibatkan timbul pemikiran untuk bunuh diri, menurut para peneliti.

”Perilaku mendidik yang melibatkan antara remaja dan orang tuanya tentang praktik tidur sehat bisa berfungsi sebagai tindakan pencegahan utama terhadap depresi dan bunuh diri, " para peneliti menyimpulkan.

Beberapa keterbatasan dari pembahasan studi ini, diantaranya:

·         Waktu tidur dapat dipengaruhi oleh karakteristik dan perilaku anak.

·         Pembawaan sifat  dapat membatasi kemampuan untuk menentukan hubungan temporal antara waktu tidur, lamanya tidur, dan depresi.

·         Kumpulan data tentang studi ini tidak mencakup informasi tentang waktu mulai sekolah.

·         Lamanya waktu tidur dilaporkan oleh diri sendiri.

Terakhir diperbaharui ( Monday, 25 January 2010 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
 
simple boy
download joomla cms download joomla themes