spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Kekerasan Para Pria Meningkatkan Risiko Hiv Pada Wanita PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh fay   
Thursday, 19 August 2010

ImageJdokter\\- Memiliki pasangan laki-laki meningkatkan risiko tertular HIV bagi perempuan di pedesaan Afrika Selatan, para peneliti melaporkan.

Dan ketidaksetaraan dalam suatu hubungan yang berbasis pada gender juga meningkatkan risiko untuk tertular virus tersebut, menurut Rachel Jewkes, MD, dari Medical Research Council di Pretoria, Afrika Selatan, dan rekannya.

Kedua faktor tersebut bersamaan memberikan "laporan untuk sebagian besar infeksi HIV," Jewkes dan rekannya menyimpulkan dalam laporan secara online pada The Lancet.

Temuan mereka konsisten pada penelitian dan pada observasi sebelumnya, tetapi yang pertama berasal dari uji coba yang prospektif secara acak, Jewkes dan rekannya mencatat . .

Para peneliti memperkirakan bahwa fraksi yang timbul adalah 11,9% infeksi HIV – pada populasi - dapat dicegah jika perempuan tidak mengalami lebih dari satu kekerasan fisik atau seksual dari pasangannya.

Dengan cara yang sama, kata mereka, 13,9% dari insiden HIV dapat dihindari jika tidak ada perempuan dalam berhubungan mengalami rendahnya kekerasan.

Temuan memberikan bahwa "kejelasan terhadap memungkinkan pada pasangan laki-laki yang terinfeksi HIV untuk melakukan kekerasan dalam berhubungan," kata Jay Silverman, PhD, dari Harvard School of Public Health di Boston, mencatat dalam sebuah komentar didalam jurnal.

Dan mereka menunjukkan, untuk pertama kalinya, bahwa kekerasan pada laki-laki memberikan penularan infeksi HIV pada pasangan perempuan mereka, katanya.

Salah satu implikasi dari penelitian ini, Silverman mengatakan, bahwa intervensi yang bertujuan untuk mengurangi risiko pada perilaku laki-laki yang kasar "mungkin tidak cukup" untuk mengurangi risiko penularan. Sebaliknya, ia berpendapat, " meminta untuk mengubah perilaku kasar."

Ada beberapa bukti - dari uji coba kecil secara acak - bahwa intervensi tersebut bisa bekerja, Silverman berkata.

Jewkes dan rekannya melaporkan data yang dikumpulkan selama percobaan secara acak dari 50 jam program seksual dan kesehatan reproduksi dan pendidikan HIV, yang dikirim ke 1.415 wanita berusia 15-26 tahun antara tahun 2002 dan tahun 2003 di 70 lokasi pedesaan di Afrika Selatan.

Untuk analisa longitudinal, para peneliti mengeluarkan 316 perempuan yang memiliki HIV pada awal penelitian. Pada awal analisa peneliti menyertakan 1.099 perempuan yang memiliki HIV-negatif dan memiliki setidaknya satu tes HIV berikutnya yang diuji selama 24 bulan setelah memasuki penelitian.

Kekerasan dalam hubungan seksual diukur dengan menggunakan kuesioner 10-titik; kekerasan pada pasangan intim diukur dengan menggunakan instrumen WHO sembilan-item yang mempelajari kekerasan fisik dan seksual.

Untuk analisa ini, terjadi pada perempuan yang mendapat kekerasan terendah dalam berhubungan dibandingkan dengan mereka pada kelompok yang mengalami kekerasan tertinggi yang melaporkan mengalami lebih dari satu kekerasan seksual atau fisik dibandingkan mereka yang melaporkan tidak mengalami kekerasan seksual atau fisik.

Secara keseluruhan, 128 perempuan terinfeksi HIV selama 2.076 orang per tahun pada masa tindak lanjut, dengan tingkat kejadian 6,2 per 100 orang-tahun, para peneliti menemukan.

Namun, 45 dari 253 perempuan yang melaporkan mengalami lebih dari satu kekerasan yang dilakukan oleh pasangan intimnya yang terinfeksi pada baseline, dengan tingkat kejadian 9,6 per 100 orang-tahun.

Sebaliknya, 83 dari 846 yang melaporkan tidak terinfeksi, dengan tingkat kejadian 5,2 per 100 orang-tahun.

Rasio pada tingkat multivariabel yang disesuaikan adalah 1,51, dengan interval keyakinan 95% 1,04-2,21, yang signifikan pada P = 0.032, Jewkes dan rekannya melaporkan.

Temuan yang sama terjadi pada ketidaksetaraan hubungan, kata mereka. Sekitar 51 dari 325 wanita yang mengalami rendahnya kekerasan dalam berhubungan pada baseline, dibandingkan dengan 73 dari 704 wanita yang mengalami tingginya kekerasan dalam berhubungan.

Tingkat insiden adalah 8,5 dan 5,5 per 100 orang-tahun, masing-masing, menghasilkan rasio multivariabel yang disesuaikan pada tingkat insiden 1,51, dengan interval keyakinan 95% 1,05-2,17, yang signifikan pada P = 0,027.

Para peneliti mengingatkan bahwa tidak ada bukti yang intervensi untuk mengurangi eksposur pada perempuan yang mengalami kekerasan untuk mengurangi risiko tertular HIV dan mengatakan bahwa studi tersebut "harus menjadi prioritas."

Terakhir diperbaharui ( Thursday, 19 August 2010 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
 
simple boy
download joomla cms download joomla themes