spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Resiko Atas Penggunaan Screening Pada Pria Dengan Nilai PSA Yang Rendah PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh fay   
Friday, 22 October 2010
ImagePria dengan nilai prostate-specific antigen (PSA) yang rendah dapat kemungkinan menghadapi resiko yang lebih dari pada keuntungan yang didapat dari pendekatan agresif dan evaluasi untuk screening kanker prostat - bersama dengan overtreatment potensial - data dari studi menyarankan. Penelitian yang retrospektif dilakukan lebih dari 85.000 laki-laki (usia 55-74 tahun) yang ditemukan bahwa mereka memiliki kadar serum PSA yang rendah dimana kemungkinan besar akan menjalani evaluasi agresif (seperti biopsi) dan pengobatan – yang dapat menyebabkan meningkatnya kematian menurut Pim J van Leeuwen., MD, dari Erasmus University Medical Center di Rotterdam, Belanda, bersama rekannya.

 

Penggunaan cutoff PSA kurang dari 2 ng/mL, dalam kehidupan memerlukan penyelidikan dan hasil pemeriksaan yang dilakukan dari hampir 25.000 orang dan pengobatan yang dilakukan lebih dari 700 orang, catat Van Leuwen dan rekannya dalam sebuah artikel yang dipublikasikan secara online dalam jurnal Cancer.

Sebaliknya, nilai PSAsekitar 10-19,9 ng/mL terkait dengan number needed to investigate (NNI) dari 133 dan number needed to treat (NNT) dari 60.

"Untuk pria dengan kadar PSA yang rendah, manfaat penyelidikan dan pengobatan mungkin terbatas karena mereka terkait dengan peningkatan pada kejadian kumulatif dan overtreatment potensial," van Leeuwen dan rekannya berkata.

Adanya kanker prostat dan kematian yang meningkat dengan nilai awal PSA antara laki-laki yang yang dipilih dan diikuti dengan adanya tidakan lebih lanjut secara klinis, para peneliti mencatat.

Pasien yang mengikuti ini memiliki kanker prostat dengan hampir tiga kali lebih tinggi dari kelompok klinis, tetapi kematian akibat kanker prostat kurang dari 1% pada kedua kelompok tersebut.

"Dengan tidak adanya standar program deteksi dini, PSA dapat digunakan untuk penilaian risiko yang menyeimbangkan bahaya dan manfaat deteksi dini pada pria usia 55 tahun sampai 74 tahun," catat tim van Leeuwen's. "Analisa saat ini menunjukkan bahwa penurunan yang signifikan dalam mortalitas penyakit yang spesifik dengan screening dan deteksi dini mungkin terbatas pada pria dengan kadar PSA awal yang tinggi."

Screening kanker prostat masih kontroversial dan subjek penyelidikan dilakukan secara terus menerus dimaksudkan untuk mengidentifikasi strategi screening yang optimal.

Baru-baru ini, sebuah studi besar di Eropa menunjukkan suatu penurunan sekitar 20% kematian pada kanker prostat yang relatif terhadap kelompok kontrol. Namun, pengurangan kematian datang dengan peningkatan yang substansial dalam kejadian lebih kumulatif, terkait dengan jumlah yang diperlukan untuk 1.410 dan NNT dari 48 (N Engl J Med 2009; 360: 1320-1328).

Selain itu, seorang Amerika Utara melakukan penelitian yang diterbitkan bersamaan dengan penelitian Eropa yang tidak menunjukkan pengaruh kematian screening PSA pada kanker prostat (N Engl J Med 2009; 360: 1310-1319).

Dalam sebuah penelitian yang bertujuan untuk evaluasi manfaat dan bahaya screening kanker prostat, Van Leeuwen dan rekannya menganalisa data pada dua kelompok besar: dari 43.987 orang secara acak ke lengan intervensi dalam studi screening kanker prostat dan 42.503 laki-laki dalam populasi klinis yang tidak berhubungan dengan fungsi sebagai kelompok kontrol.

Orang-orang dalam kelompok intervensi screening serial PSA dan investigasi PSA-triggered, termasuk biopsi. Dalam mengendalikan sekelompok pria yang menjalani tes PSA baseline dan kemudian diikuti secara klinis sesuai dengan standar lokal.

Usia pria di kedua kelompok tersebut adalah 55-74 tahun, dan semuanya memiliki dasar nilai serum PSA kurang dari 20 ng / mL dan tidak ada sejarah kanker prostat. Rata-rata tindak lanjut sekitar delapan sampai sembilan tahun dan berakhir pada 31 Desember 2006.

Pria pada kelompok kontrol dengan usia lebih tua (rata-rata usia 65 tahun melawan 61 tahun, P <0,001), memiliki dasar nilai yang lebih tinggi dari PSA (rata-rata 1,60 melawan 1,18 ng / mL, P <0,001), dan yang lebih rendah secara signifikan pada proporsi pasien dengan nilai PSA dari 0-1,99 ng / mL (60,1% melawan 72,8%, P <0,001).

Kelompok intervensi memiliki kanker prostat sebesar 9,9% dibandingkan pada kelompok kontrol yang memiliki kanker prostat 3,6% (P <0,001). Pada kelompok kontrol, pria yang terkena kanker prostat diagnosa secara signifikan pada usia yang lebih tua (71 melawan 66, P <0,001), dan waktu rata-rata mereka untuk diagnosa secara signifikan lebih lama (5.3 melaean 4.1 tahun, P <0,001).

Kelebihan yang signifikan terutama berasal dari penyaringan sistematis secara berulang dengan menggunakan teknik biopsi sextant lateralized, para peneliti mecatat.

Pada akhir follow up, tingkat kematian secara keseluruhan adalah 25,5% pada kelompok kontrol dan 14,5% pada kelompok intervensi. Namun, kematian terkait kanker prostat tidak berbeda secara signifikan antara kelompok kontrol (0,6%) dan intervensi (0,2%).


Keterbatasan utama penelitian ini adalah tidak adanya pengacakan, sehingga karakteristik pasien berbeda pada awal penelitian. "Statistik penyesuaian yang dibutuhkan untuk perbedaan usia dan tingkat serum PSA pada awal penelitian selanjutnya. Perbedaan besar dalam semua yang meenyebabkan kematian mungkinkan penyimpangan terhadap hasil," catat Van Leeuwen dan rekannya. Pembatasan lain yang dapat menyebabkan penyimpamgan adalah penggunaan tes PSA yang berbeda, mereka menambahkan.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
 
simple boy
download joomla cms download joomla themes